Forum Silaturahim Alumni SMPN 69 (FOSIL 69), sangat penting
untuk dimiliki. Tidak hanya untuk eksistensi, tapi juga untuk sarana
silaturahmi antar keluarga besar “jebolan” suatu sekolah terkhusus sekolah di
SMPN 69.
Di era kini, peran Fosil69 tidak hanya penting dalam
mewujudkan visi & misi tapi lebih dari itu, Fosil69 dapat menjadi ujung
tombak dalam meningkatkan reputasi sekolah di mata masyarakat, di samping
“membuka jalan” alumni yang lain (alumni yang baru lulus) untuk masuk ke dunia
kerja atau rofesional.
Mengapa Ikatan Fosil 69 penting ? Ayo kita pikirkan dan
renungkan ! Sekolah mana yang punya “nama besar” di situ pasti Ikatan Alumninya
kuat. Sekolah mana yang “mentereng”, karena di situ ada kumpulan alumni yang
berprestasi dan berkualitas. Sekolah mana yang dulunya “jelek” sekarang “bagus”
karena alumninya ikut terlibat dalam “membesarkan” sekolahnya sendiri.
Bagaimana dengan sekolah kita dulu di SMPN 69 ?
Setidaknya ada 4 alasan yang mendasari pentingnya FOSIL 69:
1.Fosil 69 dapat berperan dalam memberikan masukan dan
program nyata bagi kemajuan sekolah.
2. Fosil 69 memiliki potensi dan kompetensi dalam membangun
opini publik demi “nama baik” (citra) sekolah.
3. Fosil 69 sebagai produk sekolahan dapat menjadi relasi
penting dalam memperluas jaringan sekolah/siswa dengan insitusi di luar
sekolah.
4. Fosil 69 dapat menjadi sumber informasi dunia kerja &
usaha bagi lulusan baru, di samping menjadi inspirasi bagi siswa yang ada di
sekolahan sekarang.
Cuma gimana caranya menciptakan FOSIL 69 yang berkenan bagi
kita semua ? Setidaknya ada 3 orientasi yang harus diciptakan FOSIL 69
- FOSIL
69 yang tak usang oleh waktu, yang tidak mengenal fanatisme kelompok,
angkatan atau usia sekalipun. Memang sulit, tapi kegagalan banyak karena
terlalu banyak dikotomi di antara anggotanya. Inilah PR besar yang perlu
kita cari “jalan tengah”.
- FOSIL
69 selalu mencerahkan, yang membangun tradisi untuk “bersinergi nyata”
bukan sekedar kangen-kangenan dan nostalgia.
- FOSIL
69 harus realistis, tidak berlebihan dalam “bermimpi”. Jangan terlalu
banyak yang di mau, di samping jangan ada kepentingan orang per orang yang
dominan, semuanya didasari pada realitas. Apa adanya bukan ada apanya.
Realistis dalam melihat dinamika zaman, realistis dalam berteman, realistis
dalam mengatur waktu.
Ketiga dasar itu yang menurut saya dapat membuat FOSIL 69 memiliki
“daya guna” yang lebih tinggi. Tulisan ini dibuat hanya untuk menjadi “bahan
renungan” bersama para anggota FOSIL 69 dalam “realitas kekinian” manusia dan
masyarakat. Saat ini banyak orang cenderung apatis, hedonis, dan terkesima
dengan hiruk pikuk kehidupan. Tanpa kamu berbuat yang lebih bagi orang lain ?
Jika kita renungkan, kenapa sih bangsa ini semakin banyak
orang pintar tapi makin banyak koruptor-nya? Ya karena ada yang hilang di era
belajar saat proses kepintaran mereka. Di saat belajar, orang-orang pintar itu
“kehilangan” konsep berpikir ala sekolahan yang harus ada pada dirinya, yaitu
1) ETIKA akan pentingnya mengajarkan manusia untuk berbuat
baik dan menjadi teladan dalam kehidupan. Mereka pintar tapi lupa etika saat
harus mengimplementasikan ilmu yang dimiliki,
2) LOGIKA akan pentingnya kepandaian akademis dalam
berkontribusi terhadap kehidupan masyarakat. Logika harusnya dapat membawa kita
untuk mencapai cita-cita, tapi setelah itu logika juga tidak boleh menjadikan
orang pintar bersikap apatis. Orang pintar harus pandai juga bermasyarakat
sehingga kepintarannya mampu menjadi solusi bagi masyarakat. Bukan sebaliknya,
orang pintar yang menganggap setiap masalah dan dinamika yang terjadi di
masyarakat dapat diselesaikan dengan sendiri-sendiri, dan
3) ESTETIKA akan pentingnya mengajarkan kreativitas dalam
menerapkan disiplin ilmu yang dimiliki. Kemampuan memadukan etika dan logika,
masih mau berdiskusi dan menuliskan pemikirannya.


